CACING VS MARMUTT..
kira2 klo ky getu..yg mn yg jd pmenang y??
marmut..>>jelas bgt donk..!!ghi getu low
cacing..>>hahaha..marmut mang na bs paan coba’??mo jd pmenang?!mimpi marmut syg…mending sini aq syg2 ja..hahaha
marmut..>>ughhh sebel..drpd cacing yg kurus krempeng..!!!
cacing..>>iy deh marmutku..km ja yg menang…aq iklas kok mut..
marmut..>>curang!!!kt kan lom btanding??
cacing..>>gpp..pa seh yg g bwt marmutku??
marmut..>>arrggghh g mo!!!aq marah low..
cacing..>>jgn mrh donk marmutku..tar jd mirip marmut bneran low
marmut..>>tuh kan sll sprti ntu..psti sll paksa klo aq yg menang…
skywalker_riogenx@yahoo।co.id
Monday, April 6, 2009
Moment Terakhir Bersamanya
Terakhir gw menatapnya_30 jan 09'
Tempat terakhir bersama_Bandara
Kata terakhirnya_"Kangen"...
Hal terakhir yg gw lakuin_Nungguin dy d warnet..
Terakhir gw k mall ma dy_29 jan 09'
di mall ngapain az :
*Beli Buku
*Makan Eskrim
*Nemenin dy beli Cam
masih banyak seh tpi dh lupa....
Lagu terakhir yang gw dengerin ma dy_Michael buble - Home
Terakhir gw berantem ma dy_04 jan 09'
Tempat terakhir bersama_Bandara
Kata terakhirnya_"Kangen"...
Hal terakhir yg gw lakuin_Nungguin dy d warnet..
Terakhir gw k mall ma dy_29 jan 09'
di mall ngapain az :
*Beli Buku
*Makan Eskrim
*Nemenin dy beli Cam
masih banyak seh tpi dh lupa....
Lagu terakhir yang gw dengerin ma dy_Michael buble - Home
Terakhir gw berantem ma dy_04 jan 09'
Barack Obama (anak menteng)...emang penting y???

Barack Obama nggak terlalu penting seh...
publikasinya terlalu berlebihan,pa lagi d INDONESIA..pemberitaan media terlalu berlebihan, padahal sapa yang tahu kalo selama tinggal di INDONESIA Obama mempunyai banyak kenangan buruk..
sudah jd kebiasaan masyarakat INDONESIA yang terlalu bangga dengan hal2 yang pernah berhubungan dengan bangsa ini,tidak terkecuali dengan seorang anak manusia yang bernama BARACK OBAMA yang cuma "nebenk" tinggal d indonesia n' kemudian menjadi presiden AS..
masyarakat terlalu bangga Obama pernah tinggal di INDONESIA setumpuk harapan pun dimunculkan seiring dengan terpilihnya dia sebagai presiden AS,mulai dari konteks hubungan politik,kerjasama ekonomi,dll..
Namun mari kita lihat ke depan,akankah kebijakan Obama memberikan pegaruh positif buat kehidupan masyarakat INDONESIA...????
Dari pada sibuk ngurusin Obama yang pernah tinggal d INDONESIA mendingan kita urusin az bangsa ini,yang tiap hari ongkos angkotnya selalu naik padahal harga BBM dh turun..!!
skywalker_riogenx@yahoo.co.id
publikasinya terlalu berlebihan,pa lagi d INDONESIA..pemberitaan media terlalu berlebihan, padahal sapa yang tahu kalo selama tinggal di INDONESIA Obama mempunyai banyak kenangan buruk..
sudah jd kebiasaan masyarakat INDONESIA yang terlalu bangga dengan hal2 yang pernah berhubungan dengan bangsa ini,tidak terkecuali dengan seorang anak manusia yang bernama BARACK OBAMA yang cuma "nebenk" tinggal d indonesia n' kemudian menjadi presiden AS..
masyarakat terlalu bangga Obama pernah tinggal di INDONESIA setumpuk harapan pun dimunculkan seiring dengan terpilihnya dia sebagai presiden AS,mulai dari konteks hubungan politik,kerjasama ekonomi,dll..
Namun mari kita lihat ke depan,akankah kebijakan Obama memberikan pegaruh positif buat kehidupan masyarakat INDONESIA...????
Dari pada sibuk ngurusin Obama yang pernah tinggal d INDONESIA mendingan kita urusin az bangsa ini,yang tiap hari ongkos angkotnya selalu naik padahal harga BBM dh turun..!!
skywalker_riogenx@yahoo.co.id
Menjadi Golput,Sebuah Opsi Berbalut Dosa?
Lenin mengatakan kalau parlamen (baca : DPR klo di Indonesia) hanya “Warung Kopi”tempat para borjuis membagi-bagikan kue kekuasaan. Lewat parlamen itu pula UU yang menguntungkan kaum borjuis dibuat. Kalau parlamen memang seperti itu, lantas untuk apa orang-orang miskin berbondong-bondong ke bilik suara, kalau kemudian hasilnya hanya “memotong leher” mereka sendiri?
Pada konteks inilah seharusnya kita harus menempatkan kehadiran Golput dalam wacana perpolitikan bangsa ini. Bagaimanapun, kehadiran Golput tidak bisa diartikan sebagai sebuah sikap tanpa tanggung jawab bernegara. Sebuah sikap apatis menihilkan kehidupan berdemokrasi yang sesungguhnya.
Mengutip pendapat dari salah satu pakar politik bahwa sikap rakyat yang tidak menggunakan hak pilihnya bisa terjadi karena empat kemungkinan. Pertama, Golput terjadi karena faktor teknis, yakni karena sebab-sebab tertentu, seperti keluarga mendapat bencana, kecelakaan, ketiduran dan jenis lainnya. Kedua, Golput disebabkan factor teknis-politis. Seperti mereka tidak mendaftarkan dirinya yang merupakan kesalahan pihak lain ( lembaga statistik, penyelenggara pemilu). Ketiga, faktor politik yakni mereka merasa muak terhadap caleg atau capres yang di usung partai. Keempat, factor ideologi. Ini sebuah pilihan yang dilandasi keyakinan bahwa demokrasi adalah produk liberal, sehingga menjadi “ Barang Haram” dimana orang yang meyakini hal ini tidak mau telibat didalamnnya
Oleh karena itu, semestinya MUI tidak perlu repot untuk memfatwakan haram bagi kehadiran Golput dalam pemilhan umum. sebab sesungguhnya amat mudah untuk menarik atensi warga Negara menyalurkan hak pilih mereka. Kesemuanya kembali kepada kinerja para elite, baik yang berkiprah dalam lembaga-lembaga politik sebagai “pabrik” dalam sirkulasi kepemimpinan, maupun mereka yang beraktivitas di lembaga eksekutif dan yudikatif.
Kepada merekalah sebenarnya terletak tanggung jawab untuk dapat memastikan kelangsungan demokrasi di negeri ini, termasuk dengan prasyarat keterlibatan aktif rakyat dalam menyalurkan hak pilihnya. Sebab, pilhan untuk tidak memilih yang dilandasi alasan kritis, tidak dapat dikekang oleh berbagi rumusan pencegahannya, mesikipun rumusan itu di buat oleh MUI (mengangpap mereka itu adalah Tuhan,bebas menetukan haram atau tidaknya sesuatu!!)
NB: kita juga perlu mencermati ajakan Golput yang di suarakan oleh beberapa tokoh, apakah ajakan itu memang dilandasi oleh keadaan yang benar-benar terjadi di negara ini yang mengharuskan kita untuk Golput, ataukah ajakan tersebut semata-mata hanya dilandasi sakit hati karena tidak disetujui oleh beberapa kelompok untuk mencalonkan diri sebagai capres atau caleg.
Pada konteks inilah seharusnya kita harus menempatkan kehadiran Golput dalam wacana perpolitikan bangsa ini. Bagaimanapun, kehadiran Golput tidak bisa diartikan sebagai sebuah sikap tanpa tanggung jawab bernegara. Sebuah sikap apatis menihilkan kehidupan berdemokrasi yang sesungguhnya.
Mengutip pendapat dari salah satu pakar politik bahwa sikap rakyat yang tidak menggunakan hak pilihnya bisa terjadi karena empat kemungkinan. Pertama, Golput terjadi karena faktor teknis, yakni karena sebab-sebab tertentu, seperti keluarga mendapat bencana, kecelakaan, ketiduran dan jenis lainnya. Kedua, Golput disebabkan factor teknis-politis. Seperti mereka tidak mendaftarkan dirinya yang merupakan kesalahan pihak lain ( lembaga statistik, penyelenggara pemilu). Ketiga, faktor politik yakni mereka merasa muak terhadap caleg atau capres yang di usung partai. Keempat, factor ideologi. Ini sebuah pilihan yang dilandasi keyakinan bahwa demokrasi adalah produk liberal, sehingga menjadi “ Barang Haram” dimana orang yang meyakini hal ini tidak mau telibat didalamnnya
Oleh karena itu, semestinya MUI tidak perlu repot untuk memfatwakan haram bagi kehadiran Golput dalam pemilhan umum. sebab sesungguhnya amat mudah untuk menarik atensi warga Negara menyalurkan hak pilih mereka. Kesemuanya kembali kepada kinerja para elite, baik yang berkiprah dalam lembaga-lembaga politik sebagai “pabrik” dalam sirkulasi kepemimpinan, maupun mereka yang beraktivitas di lembaga eksekutif dan yudikatif.
Kepada merekalah sebenarnya terletak tanggung jawab untuk dapat memastikan kelangsungan demokrasi di negeri ini, termasuk dengan prasyarat keterlibatan aktif rakyat dalam menyalurkan hak pilihnya. Sebab, pilhan untuk tidak memilih yang dilandasi alasan kritis, tidak dapat dikekang oleh berbagi rumusan pencegahannya, mesikipun rumusan itu di buat oleh MUI (mengangpap mereka itu adalah Tuhan,bebas menetukan haram atau tidaknya sesuatu!!)
NB: kita juga perlu mencermati ajakan Golput yang di suarakan oleh beberapa tokoh, apakah ajakan itu memang dilandasi oleh keadaan yang benar-benar terjadi di negara ini yang mengharuskan kita untuk Golput, ataukah ajakan tersebut semata-mata hanya dilandasi sakit hati karena tidak disetujui oleh beberapa kelompok untuk mencalonkan diri sebagai capres atau caleg.
Artikel ini gw copas (Copy-Paste) dari Pikiran Rakyat
Subscribe to:
Posts (Atom)